Kamu juga dapat menekan tombol ESC untuk menutup laman ini

Buku terlarang Pramoedya Ananta Toer

Siapa yang tidak pernah mendengar tentang buku Bumi Manusia setelah filmnya rilis pada tahun 2019 silam. Film yang diperankan oleh Iqbaal Ramadhan, aktor muda yang digandrungi tidak hanya anak remaja tetapi juga ibu-ibu di seluruh Indonesia. Buku ini turut menjadi perbincangan masyarakat Indonesia. Namun, bagi pecinta buku karya Pramoedya Ananta Toer ini tidak asing lagi.

Sebuah Tetralogi Buru yang terdiri dari empat novel (Bumi Manusia, Anak Semua Bangsa, Jejak Langkah, dan Rumah Kata) yang ditulis oleh Pram selama diasingkan di Pulau Buru antara tahun 1965-1979. Diterbitkan pada Agustus 1980, dua bulan kemudian ratusan eksemplar buku ini langsung disita dan mendapatkan larangan edar oleh pemerintah Indonesia melalui keputusan Kejaksaan Agung karena dianggap mengandung pesan dan paham-paham Marxisme-Leninisme.

Selama menjadi tahanan politik di Pulau Buru, Pram sudah dilarang untuk menulis namun beliau berhasil menyelesaikan keempat seri novel semi-fiksi sejarah perkembangan nasionalisme di Indonesia ini. Sangat disayangkan bahwa naskah asli novel ini ditahan oleh petugas penjara dan tidak pernah dikembalikan kembali. Naskah yang diterbitkan pada tahun 1980 adalah naskah yang berhasil ditulis ulang oleh Pram dalam kertas doorslag yang berhasil diseludupkan keluar melalui tamu-tamu yang berkunjung ke Buru.

Walaupun dilarang di Indonesia, popularitas tetralogi ini tidak ikut surut bahkan malah menjadi primadona. Buku Bumi Manusia sendiri sudah diterbitkan ke dalam 33 bahasa dan dicetak ulang hingga 20 kali hingga tahun 2002. Di tahun 2005, buku ini diterbitkan kembali oleh penerbit yang berbeda. Dalam tulisannya di majalah Tempo pada tahun 2002, Pram sangat menyayangkan bukunya dilarang di Indonesia tetapi di Amerika menjadi bacaan wajib sekolah-sekolah lanjutan.

Beberapa sumber menyebutkan bahwa terdapat hampir 29 buku Pram yang dilarang oleh pemerintah Indonesia pada masa Orde Baru. Fakta ini sungguh memprihatinkan karena cerita fiksi sejarah ini banyak dikatakan sebagai cermin Indonesia pada masa pemerintahan kolonialisme Belanda dan memiliki kisah yang memiliki pembelajaran tentang kehidupan. Berntungnya saat ini kita bisa membaca buku ini dengan bebas.


Sumber:

Toer, P. A. (2000, April 16). Saya Bukan Nelson Mandela (Buat Goenawan Mohamad). Majalah Tempo. https://majalah.tempo.co/read/kolom/112715/saya-bukan-nelson-mandela-tanggapan-buat-goenawan-mohamad