Kamu juga dapat menekan tombol ESC untuk menutup laman ini

Novel Remaja Tampil Beda: Konflik Keluarga Dibalut Misteri Dibumbui Edukasi

Identitas Buku

Judul: Perempuan Misterius 

Penulis: Nicco Machi

Penerbit: Indiva Media Kreasi

Tahun Terbit: Juli, 2020


Satu yang aku kagumi dari Indiva Media Kreasi adalah konsistensinya dalam menghadirkan cerita bernuansa agamis tanpa perlu menjadikannya cerita religi. Salah satu contohnya adalah novel Gen Z berjudul “Perempuan Misterius” kara Nicco Machi. Seperti telah tertulis pada sampulnya–misterius, novel yang diperuntukkan bagi pembaca remaja ini memang menyuguhkan berbagai pertanyaan di benak para pembaca sekaligus ketegangan. Namun, tenang saja, ini sama sekali bukan novel horor dan sama sekali nggak menakutkan, kok. 

Oh, ya, novel ini juga meraih juara kedua pada Kompetisi Menulis Novel Remaja yang diadakan Penerbit Indiva pada 2019 lalu. Setelah membaca, aku nggak heran, sih dan akan aku coba paparkan sedikit alasan novel ini memang layak mendapat juara. 


Novel yang Kaya dan Nggak Cuma Halu Aja

Tahu, nggak nama atlet tenis dari Indonesia? 

Sadar, nggak kalau ayam dan keong yang sering dicat warna-warni gemes itu ternyata bentuk kekerasan kepada hewan?

Sejujurnya, jawaban dari dua pertanyaan tersebut baru aku tahu dan sadari setelah membaca novel “Perempuan Misterius” ini. Heran? Sama … Awal baca aku juga nggak punya ekspektasi novelnya akan sekaya ini. Namun, persoalan tenis dan kekerasan pada hewan ini cukup halus, sih masuk dalam cerita yang konflik utamanya tentang keluarga. 

Tenis adalah sesuatu yang begitu digemari Iska, gadis SMA yang menjadi tokoh utama di novel ini. Menariknya, kita nggak cuma diajak kenalan dengan beberapa istilah di olahraga tenis plus nama-nama atletnya, ada juga konflik antara hijab versus tenis. Tenis selain dikenal sebagai olahraga kaum elit juga bukan olahraga yang lumrah dilakukan oleh atlet berhijab. Hal ini memberi aku sudut pandang baru sebagai pembaca, sih. Hal yang sebelumnya nggak terpikirkan menjadi konflik ternyata bisa jadi masalah yang ciamik, ya kalau dipikir-pikir? Aku pribadi suka banget penulis bisa ambil sudut pandang ini. Pesannya juga mengena bahwa hijab nggak semestinya jadi penghalang untuk berprestasi di olahraga, termasuk tenis tentunya.

"Menurutku justru bagus kalau semakin banyak perempuan berhijab yang berprestasi di berbagai bidang,” lanjut Ganesh seraya mengambil bengkuang. “Jadi seluruh dunia bakal tahu kalau perempuan berhijab itu hebat-hebat bisa berjaya tanpa meninggalkan kewajiban beragama.” (halaman 28–29)


Nah, meski Iska suka banget sama tenis. Ia nggak bisa menekuni tenis secara serius. Bukan karena hijab, ya, tapi. Kalau mau tahu karena apa mending baca aja novelnya. Hehehe … Karena nggak bisa serius di bidang tenis, Iska tertarik dengan bidang lain yakni kesehatan hewan. Ia pun bercita-cita menjadi dokter hewan seperti selebgram idolanya. Khas cerita remaja, ya pasti ada tentang impian dan cita-cita. Namun, aku suka karena persoalan cita-cita ini jadi bumbu banget di konflik utamanya.

Kehadiran selebgram yang juga berprofesi sebagai dokter hewan di novel ini memberi ruang bagi penulis untuk menghadirkan persoalan kekerasan pada hewan dan berhasil! Aku sambil baca jadi belajar hal baru juga terkait isu ini. Penempatannya pun nggak maksa atau merasa baca buku panduan, kok. Jadi, nggak heran, kan novel ini bisa juara? Novelnya memang berisi, nggak modal halu aja.


Debar Cinta Pertama tanpa Meninggalkan Ajaran Agama

Ini juga yang selalu buatku kagum dengan novel-novel dari Indiva. Nggak butuh tokoh santri yang nggak gaul dan kalimatnya selalu berisi dalil agama, lho untuk bawa pesan tentang syariat. Asli, ini keren, sih!

“Aku yakin kamu lebih paham soal hukum pacaran dalam agama kita, Is.” Ganesh menatap Iska. “Tapi, aku nggak pengin membuat dia merasa dihakimi dengan mengatakan hal-hal seperti ‘pacaran itu dosa’, ‘mendekati zina’, dan semacamnya,” lanjutnya. (halaman 118)


Namanya juga novel remaja, ada bumbu-bumbu cinta pertama, tuh wajar banget, kan? “Perempuan Misterius” pun begitu. Iska dan Ganesh yang masih SMA ini nggak pacaran, lho padahal. Namun, momen manis kedekatan dan persahabatan mereka, ngalah-ngalahin cokelat! 

Dari sini aku belajar banyak, bahwa menulis cerita baik, tuh sebetulnya tetap bisa, kok dibuat uwu. Selama ini, kan konsep uwu, tuh seolah harus ada kontak fisik atau setidaknya rayuan gombal. Nggak sama sekali! Aku jadi optimis, sih kalau Indiva konsisten dengan jalur ini, kehadiran cerita baik untuk remaja akan selalu ada. Karena, kan seperti kita lihat yang sedang tren saat ini di kalangan remaja justru yang psikopat, mengandung kekerasan dalam pacaran, atau geng-gengan. Thanks to Indiva yang masih memberikan pilihan untuk pembaca kita, terutama yang berusia remaja. 


Esensi Keluarga pada Novel Remaja

Seringnya, ya urusan keluarga, nih jadi selingan atau sampingan di novel remaja. Aku banyak baca novel remaja yang fokusnya konflik di sekolah, konflik sama teman sebaya, peer pressure, atau perundungan. Ada, sih masalah keluarga, tapi nggak yang jadi fokus utama. Nah, “Perempuan Misterius”, nih berani tampil beda karena justru misteri dan konflik utamanya adalah di masalah keluarga. 

Sebetulnya masalah keluarga yang jadi topik utama bukan hal baru, sih kalau melihat novel-novel Gen Z terbitan Indiva. Novel yang berkesan dan juara pasti angkatnya persoalan keluarga. Namun, kalau melihat pasar pada umumnya memang persoalan keluarga di novel remaja nggak sebanyak persoalan cinta pertama atau sekolah. 

Memang agak tricky, sih menghadirkan tema ini bagi pembaca remaja. Di satu sisi, remaja tuh pasti mencari hiburan yang menjawab pertanyaan-pertanyaan mereka tentang perubahan, pertemanan, dan cinta pertama. Hal-hal tentang keluarga secara sepintas bisa dianggap membosankan dan nggak greget. Bagusnya si novel “Perempuan Misterius” ini adalah pilihan mengusung genre misteri di samping fiksi realis. Alih-alih pakai judul dengan kata-kata bernuansa keluarga, pilihan memakai judul misteri dan membuat nuansa misterius menurutku cukup berhasil memantik rasa ingin tahu, terutama bagi pembaca remaja.


Selalu Ada Ruang untuk Berkembang 

Secara teknis aku cukup nyaman  membaca novel ini sampai selesai dalam waktu yang cukup singkat. Ada sedikit kesalahan teknis dan saltik tapi belum sampai tahap mengganggu kenikmatan membaca. Hanya saja, aku menemukan istilah kambing hitam dalam konteks perlombaan. Kalau nggak salah situasinya, tuh membahas tentang Iska yang tidak dijagokan tetapi berhasil sukses dan semestinya kuda hitam.

Pilihan untuk menggunakan sudut pandang orang ketiga terbatas pada tokoh Iska juga menurutku tepat. Karena, meski pakai sudut pandang orang ketiga novel ini, kan dibangun dengan misteri. Kita nggak akan bisa dapat misterinya kalau orang ketiga serba tahu yang digunakan. Cukup dari sisi Iska saja seluruh pertanyaan dan pikiran itu muncul.

Berkaitan dengan narator, di awal-awal tokoh Mimi muncul, aku juga sempat merasa dialog Mimi terlalu kaku untuk anak usia SMA. Aku sempat merasa Mimi terbawa dengan gaya tutur narator yang baku sekali, terutama pilihan katanya saat menjelaskan tentang lapangan tenis. Namun, gaya baku ini cukup konsisten hingga pertengahan dan baru agak luwes menjelang akhir. Aku juga cukup paham, sih karena bisa jadi karakter Mimi dibuat demikian karena ia memang digambarkan tidak punya banyak teman di awal-awal.

Selain itu, novel ini asyik, bikin deg-degan, dan penasaran. Bahkan sampai akhir penulis masih memberi bumbu dengan pesan yang bikin rasa berdebar itu muncul lagi. Memang jawaban dari semua misteri terasa agak tumpah semua di bagian akhir karena petunjuk di awal-awal nggak begitu banyak. Selain itu, jawaban dari semua misteri disampaikan dari sisi narator alih-alih dialog. Jadi, rasanya seperti ditumpahkan aja. Namun, untuk kategori misteri remaja dan tokohnya pun bukan detektif, ini sudah oke banget karena misterinya berhasil. 


IndivaXLontara Berikan Kemudahan dan Kualitas Bacaan dalam Genggaman

Seneng banget Lontara menghadirkan buku-buku digital terbitan Indiva Media Kreasi. Sejujurnya, aku adalah tipe pembaca yang sulit banget megang buku fisik. Bukan berarti nggak suka buku fisik, tetapi waktu bacaku adalah sebelum tidur dalam kondisi gelap. Jadi, kehadiran buku digital, tuh membantu banget. Platform baca tulis digital memang sudah menjamur, tetapi Lontara, tuh memberikan versi digital dari buku cetak yang memang sudah terjamin kurasinya dan itu nggak banyak! 

Aku berharap banget, sih kerja sama ini bisa ada terus. Apa lagi Lontara punya sistem sewa yang memudahkan banget buat pembaca dengan dana pas-pasan. Nggak sampai sepuluh ribu sudah bisa baca buku terbitan Indiva, tuh gimana, nggak seneng, sih? 

Pokoknya, terima kasih banget untuk Lontara App dan Indiva Media Kreasi yang sudah memberikan fasilitas ini. Kini, bacaan berkualitas mudah didapatkan dalam genggaman bersama Lontara.