Laki-Laki Bernama Klaus Klump

Laki-Laki Bernama Klaus Klump

Onçalo M. Tavares

0.0

Biografi, Misteri, Fiksi, Sastra

Login untuk Sewa / Beli

Seorang laki-laki bernama Klaus Klump ( Um homem: Klaus Klump) adalah sebuah karya penulis Portugis, Goncalo Manuel Tavares, yang berlatar belakang masa perang. Tidak disebutkan di mana, atau kapan terjadinya, penulis hanya memberikan detail tentang kematian, tank, dan peluru. Plotnya sederhana, tetapi kuat: seorang pria dan seorang wanita berada di kota yang terkepung, para prajurit memasuki rumah-rumah dan memperkosa wanita-wanita yang tinggal di sana, munculah perlawanan, dan yang mengakibatkan perang. Tavares menggambarkan pengalaman kemanusiaan yang dialami ribuan orang di masa itu.

Klaus Klump, tokoh utamanya, berasal dari keluarga kaya dan terpandang. Dengan pecahnya perang ia terpaksa mengubah hidupnya secara radikal. Dari seorang penerbit buku, ia menjadi tentara. Buku-buku yang ia terbitkan itu bagaikan bom kecil yang dia luncurkan melawan ekonomi, politik. Dia tahu bahwa untuk bertahan hidup dalam perang, yang terbaik adalah tetap netral, menjadi pengecut, namun ia memilih untuk melawan. Transformasi yang terjadi dalam kehidupannya erat hubungannya dengan dua orang wanita yang dekat dengannya, yaitu Yohana dan Herthe. Tapi suatu kekuatan besarlah yang membatalkan takdirnya. Kisah Klaus Klump adalah protret kehidupan di zaman perang yang bertutur tentang cara orang bertahan hidup, kemenangan atas kemunafikkan dan keinginan untuk melupakan seperti pedang bermata dua. Plot cerita mulai memanas ketika Klaus Klump ditangkap. Sementara itu, Herthe menikah dengan Ortho, seorang perwira tentara, tetapi saudara lelakinya Clako—yang tampil sebagai musisi dipernikahannya, mengancam untuk membunuh pengantin pria. Untuk memanaskannya, Gancalo M. Tavares mengunakan logika-logika yang cerdik dalam gagasannya dalam masa perang dan dalam masa damai, kekuatan dan kelemahan adalah istilah-istilah yang tidak mengenal mobilitas. Emosi kemarahan, fisik dan detail tokoh utama menyatu seperti mosaik, seperti potongan-potongan laporan berita. Ada juga wawasan dan komentar tentang takdir, bahasa, masa damai dan masa perang yang berujung pada akhir yang ironis yang akan mendorong pembaca untuk mempertanyakan nilai-nilai dan transformasi karakter-karakternya.