Pesan dalam imajinasi : peserta didik SMA dan MA Kota Tasikmalaya

Pesan dalam imajinasi : peserta didik SMA dan MA Kota Tasikmalaya

Nur Latifah, Sevina Azahra, Dania Husna, Nadilla Millata Hanipah, Dion Jupito H. [dan 16 lainnya]

0.0

Antologi Fiksi

Login untuk Sewa / Beli

Masa remaja adalah masa terindah dalam kehidupan manusia. Ada semacam titik `barzakh` atau garis `demarkasi` antara masa kanak-kanak dengan masa dewasa. Betapa berwarnanya masa itu. Betapa bertenaga dan penuh semangatnya masa-masa itu. Tapi banyak orang terperangkap. Banyak remaja yang menghabiskan masa remaja tanpa makna. Sebagian lagi bahkan menghancurkannya. Mereka yang masuk perangkap itu telah mengubur masa
kanak-kanaknya dan mengorbankan kebahagiaan di masa dewasanya

Beruntunglah remaja yang memanfaatkan masa muda dengan penuh warna dan full makna. Keindahan masa remaja boleh saja dinikmati, tapi juga harus dimanfaatkan untuk mendulang prestasi, mencipta karya mempersembahkan dedikasi. Hadirnya lembaga pendidikan adalah kanal remaja untuk bisa mengarahkan diri menuju hidup bermanfaat. Sekolah adalah institusi yang bisa memberi garis batas, juga menyiapkan arah tempuh. Membiarkan mereka bahagia itu penting. Tapi garis itu harus diperjelas dan diperketat agar mereka bahagia, tapi juga mampu mengenali diri. Arah tempuh juga mesti diperjelas agar mereka paham bahwa puncak dari kebahagiaan itu ketika masa remaja bisa menjadi jembatan menuju sukses di
masa depan.

Di masa remaja, logika dan emosi berbaur dan saling mengalahkan. Masa ini juga dipenuhi oleh fantasi dan imajinasi. Pada dimensi ini, para remaja mesti mendapatkan perhatian dari orang-orang terdekat, yaitu keluarga, sahabat, juga lingkungan. Mengarahkan logika, emosi, fantasi, dan imajinasi itu mesti bermuara pada bagaimana mereka mampu memberi bukti. Mereka harus dipastikan melewatkan masa remaja dengan baik dan benar.

Buku Pesan dalam Imajinasi Peserta Didik SMA, SMK, MA, dan MAN Kota Tasikmalaya ini adalah satu di antara cara mengarahkan para remaja pada produktivitas masa. Mereka mesti dibiasakan untuk bisa menaklukkan waktu bersama aktivitas positif. Manfaatnya pasti untuk diri sendiri. Selanjutnya, manfaat itu meresap dan merembes menuju wilayah yang lebih luas. Orang tua, sekolah, dan lingkungan ikut merasakan dan menikmati. Kali ini, mereka menulis secara `keroyokan`. Ke depan, mereka bahkan akan dan harus mau menulis sendiri, mencipta karya tanpa harus berkolaborasi.