Beginilah Seharusnya Cinta

Beginilah Seharusnya Cinta

Fatih Beeman

0.0

Fiksi, Romansa

Login untuk Sewa / Beli

Seorang anak dan ibu tengah berjalan. Matahari garang memanggang. Siang terik. Istirahatlah mereka berdua di bawah pohon yang cukup teduh.
Tak jauh dari mereka, ada beberapa anak tengah melempari pohon mangga yang tengah ranum. Pohon mangga itu milik umum, tiada yang tahu siapa penanamnya. Tumbuhnya pun di tanah wakaf.
Melihat itu, rasa yang akrab dengan si anak yakni rasa ingin tahu, menggelegak seketika dalam diri. Ia pun bertanya kepada ibunya.
“Ibu, kenapa orang itu melempari mangga dengan batu?” tanya si anak polos.
Si ibu menoleh ke arah yang ditunjuk si anak, lalu tersenyum.
“Itu karena mereka ingin memakan buah mangga,” jawab si ibu.
“Lalu kenapa tidak dipanjat saja? Kenapa mesti dilempari?” tanya si anak lagi.
Si ibu kembali tersenyum sambil mengelus kepala anaknya.
“Nak, jangan kau lihat apa yang dilakukan orang-orang itu terhadap pohon mangga. Tapi lihatlah apa yang dilakukan pohon mangga kepada orang-orang itu setelah ia dilempari dengan batu,” kata si ibu.
Si anak lalu memperhatikan kejadian selanjutnya. Berujarlah ia kepada ibunya.
“Pohon mangga itu menjatuhkan buahnya, Bu.”
“Yah … begitulah, Nak. Belajarlah dari pohon mangga itu. Dilempari batu, tapi ia membalas dengan buahnya.”
Pengungkapan rasa cinta sangat beragam. Terkadang manis seperti gula dan terkadang pahit seperti empedu. Tetapi, tahukah bahwa cinta yang Anda terima, namun rasanya sepahit empedu itu adalah pengungkapan rasa cinta dalam bentuk lain yang jauh lebih indah daripada cinta yang manis bak gula-gula?